TUGAS MAKALAH
Mata Kuliah Evalusi belajar mengajar
Konsep Pengukuran Penilaian dan Evaluasi
D
I
S
U
S
U
N
OLEH
LA TOMUNA SAAD
JURUSAN PEND.FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MANADO
2013/2014
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bagi seorang pendidik, istilah
pengukuran, penilaian, evaluasi, asesment dan tes adalahistilah yang sering digunakan dalam menjalankan tugasnya sebagai pengajar. Menentukan hasil
pembelajaran diupayakan untuk berlaku objektif, adil, dan
menyeluruh, Oleh karena itu
penggunaan alat ukur yang handal dan terpercaya mutlak
untuk dilaksanakan dengan cara-cara yang tepat. Pengukuran, penilaian,
assesment, evaluasi, dan tes merupakan istilah-istilah yang bersifat hierarki.
Evaluasi didahului dengan penilaian (assesment), sedangkan penilaian didahului
oleh pengukuran. Dengan demikian, antara pengukuran, penilaian, assesment,
evaluasi, dan tes saling berkaitan erat satu dengan lainnya.
Dalam melakukan evaluasi terdapat subjek dan
sasaran evaluasi, dimana subjek evaluasi
merupakan orang yang melakukan pekerjaan evaluasi yang
ditentukan oleh suatu aturan
pembagian tugas atau ketentuan yang berlaku. Sedangkan
sasaran evaluasi merupakan segala sesuatu yang menjadi titik pusat pengamatan
karena penilaian menginginkan informasi tentang sesuatu tersebut. Semuanya
itu sebagai satu kesatuan yang akan menentukan kualitas pembelajaran. Dalam
proses pembelajaran, pendidik dan peserta didik masing-masing berupaya
mensukseskan tugas utama.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana konsep pengukuran defensi ,
Fungi dan tujuan pengukuran?
2.
Bagaimana konsep pengukuran defensi , Fungi
dan tujuan Penilaian?
3.
Bagaimana konsep pengukuran defensi ,
Fungi dan tujuan Evaluasi?
C. Tujuan
Setelah
membahsan pokok-pokok bahasan dalam makalah ini, ada beberapa tujuan yang
diharapkan dapat dicapai yaitu sebagai berikut :
1.
Mamahami minimal defensi dari pengukuran,
penilaian, dan evaluasi
2.
Memahami fungsi
dan tujuan dari pengukuran, penilaian, dan evaluasi
3.
Memahami tentang
konsep tes, yaitu bagaimana langkah-langkah menyusun atau merancang sebuah tes
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGUKURAN
1. Beberapa pengertian pengukuran antara lain:
Menurut Budi Hatoro pengukuran atau measurement merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas sesuatu yang bersifat numerik. Pengukuran lebih bersifat kuantitatif, bahkan merupakan instrumen untuk melakukan penilaian. Menurut Pflanzagl’s pengukuran adalah proses menyebutkan dengan pasti angka-angka tertentu untuk mendiskripsikan suatu atribut empiri dari suatu produk atau kejadian dengan ketentuan tertentu. Pengukuran adalah kegiatan yang dilakukan untuk membandingkan suatu atas dasar ukuran tertentu. Pengukuran menurut Suharsimi Arikunto adalah suatu kegiatan membandingkan sesuatu dengan satu ukuran (Suharsimi Arikunto, 2001). Pengukuran (measurement) adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan di mana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu (Akhmad Sudrajat, 2008). Pengukuran adalah proses pengumpulan data atau informasi yang dilakukan secara objektif. Melalui kegiatan pengukuran segala program yang menyangkut perkembangan dalam bidang apa saja dapat dikontrol dan dievaluasi. Hasil pengukuran berupa kuantifikasi dari jarak, waktu, jumlah, dan ukuran dsb. Hasil dari pengukuran dinyatakan dalam bentuk angka yang dapat diolah secara statistik. Jadi Pengukuran adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan untuk membandingkan sesuatu atau obyek berdasarkan ukuran tertentu. Sifat pengukuran adalah kuantitatif dan sebagai suatu tindakan atau proses untuk menentukan luas atau kuantitas dari sesuatu.
2. Tujuan Pengukuran
Pengukuran dan evaluasi dalam bidang pendidikan pada umumnya dan keolahragaan khususnya mempunyai peranan yang sangat penting.Penentuan ini dapat digunakan untuk menentukan tingkat, membebaskan peserta dari suatu kesatuan pelajaran, menaikkan peserta dari suatu tingkat ke tingkat yang lebih tinggi, memberikan umpan balik untuk memperbaiki unjuk kerja, menempatkan individu-individu ke dalam kelompok-kelompok tertentu atau menentukan suatu bentuk latihan yang khusus. Pada pokoknya, penentuan status mencakup semua tujuan-tujuan lain pada pengukuran dan evaluasi.
Berikut ini diuraikan tujuan tujuan pengukuran dan evaluasi sebagaimana tersebut di atas:
1. Beberapa pengertian pengukuran antara lain:
Menurut Budi Hatoro pengukuran atau measurement merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas sesuatu yang bersifat numerik. Pengukuran lebih bersifat kuantitatif, bahkan merupakan instrumen untuk melakukan penilaian. Menurut Pflanzagl’s pengukuran adalah proses menyebutkan dengan pasti angka-angka tertentu untuk mendiskripsikan suatu atribut empiri dari suatu produk atau kejadian dengan ketentuan tertentu. Pengukuran adalah kegiatan yang dilakukan untuk membandingkan suatu atas dasar ukuran tertentu. Pengukuran menurut Suharsimi Arikunto adalah suatu kegiatan membandingkan sesuatu dengan satu ukuran (Suharsimi Arikunto, 2001). Pengukuran (measurement) adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan di mana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu (Akhmad Sudrajat, 2008). Pengukuran adalah proses pengumpulan data atau informasi yang dilakukan secara objektif. Melalui kegiatan pengukuran segala program yang menyangkut perkembangan dalam bidang apa saja dapat dikontrol dan dievaluasi. Hasil pengukuran berupa kuantifikasi dari jarak, waktu, jumlah, dan ukuran dsb. Hasil dari pengukuran dinyatakan dalam bentuk angka yang dapat diolah secara statistik. Jadi Pengukuran adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan untuk membandingkan sesuatu atau obyek berdasarkan ukuran tertentu. Sifat pengukuran adalah kuantitatif dan sebagai suatu tindakan atau proses untuk menentukan luas atau kuantitas dari sesuatu.
2. Tujuan Pengukuran
Pengukuran dan evaluasi dalam bidang pendidikan pada umumnya dan keolahragaan khususnya mempunyai peranan yang sangat penting.Penentuan ini dapat digunakan untuk menentukan tingkat, membebaskan peserta dari suatu kesatuan pelajaran, menaikkan peserta dari suatu tingkat ke tingkat yang lebih tinggi, memberikan umpan balik untuk memperbaiki unjuk kerja, menempatkan individu-individu ke dalam kelompok-kelompok tertentu atau menentukan suatu bentuk latihan yang khusus. Pada pokoknya, penentuan status mencakup semua tujuan-tujuan lain pada pengukuran dan evaluasi.
Berikut ini diuraikan tujuan tujuan pengukuran dan evaluasi sebagaimana tersebut di atas:
a. Pengelompokkan.
Salah satu tujuan pengukuran dan evaluasi adalah untuk
pengelompokan. Pengelompokkan ini berdasarkan tingkat keterampilan, umur, jenis
kelamin, kondisi kesehatan, minat. Sebagai upaya memperbaiki proses
pembelajaran, guru dapat menempatkan siswanya ke dalam kelompok-kelompok
tertentu, sesuai dengan tingkat kemampuannya. Siswa dengan kemampuan yang
tinggi tidak harus dipaksa bertahan dengan teman sekelompoknya yang
berkemampuan kurang. Demikian juga sebaliknya. Dengan dilakukannya pengukuran
dan evaluasi, siswa dapat dikelompokkan pada kelompok yang tepat.
Jika siswa ditempatkan pada kelompok yang setara tingkat keterampilannya, guru dapat menyusun program pelajaran secara individual. Keuntungan lain yang diperoleh dari pengelompokkan ini adalah siswa dapat berani, lebih lancar, lebih aktif ketika berlatih, karena mereka bersaing dengan siswa lain yang berkemampuan setara. Dengan kata lain, tujuan penempatan siswa ke dalam kelompok yang setara adalah untuk memperbaiki proses pembelajaran.
b. Penilaian
Tujuan utama penilaian adalah memberi informasi tentang kemajuan yang dicapai dalam proses pembelajaran yang dikerjakan dan posisi siswa di dalam kelompoknya. Dengan mempertimbangkan seluruh faktor, penilaian harus dilakukan secara objektif sehingga dapat mencerminkan kemajuan yang diperoleh, dan perbaikan-perbaikan yang diperlukan.
c. Motivasi
Motivasi merupakan kekuatan yang memandu seseorang untuk mencapai hasil yang tertinggi. Apabila dilaksanakan secara tepat, evaluasi dapat merupakan proses memotivasi yang positif. Demikian pula sebaliknya, bila dilakukan secara sembarangan evaluasi dapat mengurangi motivasi. Motivasi yang terbesar adalah keberhasilan. Agar siswa tetap memiliki motivasi, mereka harus mengetahui bahwa dirinya berkembang kemampuannya. Tes-tes keterampilan olahraga memungkinkan siswa untuk berkompetisi dengan dirinya sendiri sebagai cara untuk mengukur kemajuannya.
d. Penelitian.
Penelitian adalah penyelidikan yang dilakukan secara sistematis untuk meningkatkan ilmu pengetahuan. Mutu data yang dikumpulkan bergantung pada ketelitian dan ketepatan alat ukur, teknik pengukuran, dan kelayakan tes. Dengan menggunakan tes yang mengukur unjuk kerja fisik dalam penelitian, diharapkan dapat membantu guru/pelatih dalam menyusun program pelatihan yang tepat, membantu memecahkan masalah-masalah dalam proses pembelajaran, dan memperbaiki program latihan yang telah dijalankan. Dengan demikian,, penelitian dapat dianggap sebagai sarana. Informasi data yang dikumpulkan untuk tujuan-tujuan penelitian harus dievaluasi keberartiannya. Jadi, tujuan penting pengukuran dan evaluasi adalah menyediakan sarana-sarana yang diperlukan untuk mengadakan penelitian.
B. PENILAIAN
1. Pengertian Penilaian.
Beberapa pengertian penilaian antara lain:
Jika siswa ditempatkan pada kelompok yang setara tingkat keterampilannya, guru dapat menyusun program pelajaran secara individual. Keuntungan lain yang diperoleh dari pengelompokkan ini adalah siswa dapat berani, lebih lancar, lebih aktif ketika berlatih, karena mereka bersaing dengan siswa lain yang berkemampuan setara. Dengan kata lain, tujuan penempatan siswa ke dalam kelompok yang setara adalah untuk memperbaiki proses pembelajaran.
b. Penilaian
Tujuan utama penilaian adalah memberi informasi tentang kemajuan yang dicapai dalam proses pembelajaran yang dikerjakan dan posisi siswa di dalam kelompoknya. Dengan mempertimbangkan seluruh faktor, penilaian harus dilakukan secara objektif sehingga dapat mencerminkan kemajuan yang diperoleh, dan perbaikan-perbaikan yang diperlukan.
c. Motivasi
Motivasi merupakan kekuatan yang memandu seseorang untuk mencapai hasil yang tertinggi. Apabila dilaksanakan secara tepat, evaluasi dapat merupakan proses memotivasi yang positif. Demikian pula sebaliknya, bila dilakukan secara sembarangan evaluasi dapat mengurangi motivasi. Motivasi yang terbesar adalah keberhasilan. Agar siswa tetap memiliki motivasi, mereka harus mengetahui bahwa dirinya berkembang kemampuannya. Tes-tes keterampilan olahraga memungkinkan siswa untuk berkompetisi dengan dirinya sendiri sebagai cara untuk mengukur kemajuannya.
d. Penelitian.
Penelitian adalah penyelidikan yang dilakukan secara sistematis untuk meningkatkan ilmu pengetahuan. Mutu data yang dikumpulkan bergantung pada ketelitian dan ketepatan alat ukur, teknik pengukuran, dan kelayakan tes. Dengan menggunakan tes yang mengukur unjuk kerja fisik dalam penelitian, diharapkan dapat membantu guru/pelatih dalam menyusun program pelatihan yang tepat, membantu memecahkan masalah-masalah dalam proses pembelajaran, dan memperbaiki program latihan yang telah dijalankan. Dengan demikian,, penelitian dapat dianggap sebagai sarana. Informasi data yang dikumpulkan untuk tujuan-tujuan penelitian harus dievaluasi keberartiannya. Jadi, tujuan penting pengukuran dan evaluasi adalah menyediakan sarana-sarana yang diperlukan untuk mengadakan penelitian.
B. PENILAIAN
1. Pengertian Penilaian.
Beberapa pengertian penilaian antara lain:
1.
Penilaian adalah
proses menentukan nilai atau obyek dengan menggunakan ukuran atau kriteria
tertentu.
2.
Penilaian adalah
suatu kegiatan mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik
buruk (Suharsimi Arikunto, 2001 :4).
3.
Penilaian
(assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat
penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta
didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik ( Akhmad
Sudrajat, 2008 )
Jadi Penilaian adalah suatu proses kegiatan menentukan
nilai atau obyek dengan kriteria dan ukuran tertentu untuk mengambil suatu
keputusan dan mengukur ketercapaian kompetensi.
2. Tujuan atau Fungsi Penilaian
Adapun tujuan dari penilaian adalah sebagai berikut:
2. Tujuan atau Fungsi Penilaian
Adapun tujuan dari penilaian adalah sebagai berikut:
1.
Selektif Artinya
adalah penilaian ditujukan untuk memisahkan antara peserta didik yang masuk
dalam kategori tertentu dan yang tidak. Peserta didik yang boleh masuk sekolah
tertentu atau yang tidak boleh.Dalam hal ini, fungsi penilaian untuk menentukan
seseorang dapat masuk atau tidak di sekolah tertentu.
2.
Diagnostik Artinya
adalah dengan mengadakan penilaian, guru mengadakan diagnosa kepada siswa
tentang kebaikan dan kelemahannya.
3.
Sebagai penempatan ( Placement )Artinya sekelompok siswa yang mempunyai hasil penilaian yang
sama, akan berada pada kelompok yang sama dalam belajar.
4.
Sebagai pengukur keberhasilan Artinya untuk mengetahui sejauh mana suatu program
berhasil diterapkan.
Sedangkan fungsi penilaian hasil belajar sebagai
berikut.
a.
Sebagai bahan
pertimbangan dalam menentukan kenaikan kelas.
b.
Sebagai umpan
balik dalam perbaikan proses belajar mengajar.
c.
Meningkatkan
motivasi belajar siswa.
d.
Evaluasi diri
terhadap kinerja siswa.
3. Penilaian
Pendidikan
a. Pengertian penilaian pendidikan
Penilaian Pendidikan adalah pengukuran aspek – aspek tingkah laku yang nampak dan dianggap mencerminkan prestasi, bakat, sikap, dan aspek – aspek kepribadian lain.
Penilaian pendidikan berfungsi sebagai:
1) Alat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan instruksional
2) Umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengajar
3) Selektif
4) Diagnostik
b. Makna Penilaian Pendidikan
1) Bagi Siswa
a. Pengertian penilaian pendidikan
Penilaian Pendidikan adalah pengukuran aspek – aspek tingkah laku yang nampak dan dianggap mencerminkan prestasi, bakat, sikap, dan aspek – aspek kepribadian lain.
Penilaian pendidikan berfungsi sebagai:
1) Alat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan instruksional
2) Umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengajar
3) Selektif
4) Diagnostik
b. Makna Penilaian Pendidikan
1) Bagi Siswa
Memuaskan :
Jika siswa memperoleh hasil yang memuaskan maka siswa akan termotivasi untuk
belajar lebih giat agar mendapat hasil yang lebih memuaskan lagi.
Tidak memuaskan
: Jika siswa tidak puas dengan hasil yang diperoleh maka siswa akan termotivasi
untuk belajar lebih giat lagi.
2) Bagi Guru
2) Bagi Guru
a.
Guru dapat
mengetahui siswa mana yang berhasil menguasai materi dan siswa mana yang belum
berhasil menguasai materi.
b.
Guru dapat
mengetahui apakah materi yang diberikan dapat diterima oleh siswa sehingga
untuk memberikan pengajaran di waktu yang akan datang tidak perlu diadakan
perubahan.
c.
Guru dapat
mengetahui apakah metode yang digunakan sudah tepat atau belum.
3) Bagi
Sekolah
a.
Dengan penilaian
selain guru dapat mengetahui hasil belajar siswa maka dapat diketahui pula
kondisi belajar yang diciptakan sudah sesuai harapan atau belum. Karena hasil
belajar merupakan cerminan kualitas sekolah.
b.
Informasi dari
guru tentang tepat tidaknya kurikulum untuk sekolah sebagai bahan pertimbangan
bagi perencanaan sekolah untuk masa yang akan datang.
c. Ciri – ciri Penilaian Pendidikan
1)
Penilaian
dilakukan secara tidak langsung. Misalnya mengukur kepandaian siswa melalui
ukuran kemampuan menyelesaikan soal
2)
Penggunaan ukuran
kuantitatif artinya menggunakan symbol bilangan sebagai hasil pertama
pengukuran yang kemudian diinterpretasikan ke bentuk kualitatif
3)
Penilaian
pendidikan menggunakan unit – unit atau satuan – satuan yang tetap.
4)
Bersifat relatif
artinya tidak selalu sama dari satu waktu ke waktu.
d. Tujuan Penilaian Pendidikan
Penilaian memiliki tujuan yang sangat penting dalam pembelajaran, diantaranya untuk grading, seleksi, mengetahui tingkat penguasaan kompetensi, bimbingan, diagnosis, dan prediksi.
Penilaian memiliki tujuan yang sangat penting dalam pembelajaran, diantaranya untuk grading, seleksi, mengetahui tingkat penguasaan kompetensi, bimbingan, diagnosis, dan prediksi.
1.
Sebagai grading,
penilaian ditujukan untuk menentukan atau membedakan kedudukan hasil kerja
peserta didik dibandingkan dengan peserta didik lain. Penilaian ini akan
menunjukkan kedudukan peserta didik dalam urutan dibandingkan dengan anak yang
lain. Karena itu, fungsi penilaian untuk grading ini cenderung membandingkan
anak dengan anak yang lain sehingga lebih mengacu kepada penilaian acuan norma
(norm-referenced assessment).
2.
Sebagai alat
seleksi, penilaian ditujukan untuk memisahkan antara peserta didik yang masuk
dalam kategori tertentu dan yang tidak. Peserta didik yang boleh masuk sekolah
tertentu atau yang tidak boleh. Dalam hal ini, fungsi penilaian untuk
menentukan seseorang dapat masuk atau tidak di sekolah tertentu.
3.
Untuk
menggambarkan sejauh mana seorang peserta didik telah menguasai kompetensi
4.
Sebagai bimbingan,
penilaian bertujuan untuk mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam rangka
membantu peserta didik memahami dirinya, membuat keputusan tentang langkah
berikutnya, baik untuk pemilihan program, pengembangan kepribadian maupun untuk
penjurusan.
5.
Sebagai alat
diagnosis, penilaian bertujuan menunjukkan kesulitan belajar yang dialami
peserta didik dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan. Ini akan
membantu guru menentukan apakah seseorang perlu remidiasi atau pengayaan.
6.
Sebagai alat
prediksi, penilaian bertujuan untuk mendapatkan informasi yang dapat
memprediksi bagaimana kinerja peserta didik pada jenjang pendidikan berikutnya
atau dalam pekerjaan yang sesuai. Contoh dari penilaian ini adalah tes bakat
skolastik atau tes potensi akademik.
C. Evaluasi
1. Pengertian Evaluasi
Beberapa pengertian evaluasi antara lain:
1. Pengertian Evaluasi
Beberapa pengertian evaluasi antara lain:
a.
Evaluasi adalah
merupakan suatu proses menceritakan, memperoleh dan menyediakan informasi yang
sangat diperlukan unuk membuat alternnatif-alternatif keputusan.
b.
Evaluasi adalah
suatu proses atau kegiatan mengukur dan menilai suatu objek (Suharsimi
Arikunto, 2001 : 5).
c.
Evaluasi adalah
penilaian, penyelenggaraan test, dan pertimbangan (Ruseffendi, 2005 : 467).
Jadi evaluasi adalah suatu proses yang sistematik dan sinambung untuk
mengetahui efesiensi dan efektivitas suatu kegiatan dimana didalamnya tedapat
kegiatan menilai ataupun mengukur untuk mengambil suatu keputusan.
2. Tujuan dan
manfaat evaluasi
a.
Evaluasi dapat memberikan
informasi untuk mengembangkan progran kurikulum. Informasi ini sangat
dibutuhkan baik untuk guru maupun untuk para pengembang kurikulum khususnya
untuk perbaikan program selanjutnya.
b.
Informasi dari
hasil evaluasi dapat digunakan oleh siswa secara individual dalam mengambil
keputusan, khususnya untuk menentukan masa depan sehubungan dengan bidang
pekerjaan serta pengembangan karir.
c.
Evaluasi berguna
untuk para pengembang kurikulum khususnya dalam menentukan kejelasan tujuan
khusus yang ingin dicapai. Misalnya apakah tujuan itu mesti dikurangi atau
ditambah.
d.
Evaluasi berfungsi
sebagai umpang balik untuk semua pihak yang tua, untuk guru dan pengembang
kurikulum, untuk perguruan tinggi, pemakai lulusan, untuk orang yang mengambil
kebijakan pendidikan termasuk juga untuk masyarakat. Melalui evaluasi dapat
dijadikan bahan informasi tentang efektivitas program sekolah. (Sanjaya, Wina:
2008: 339)
3.
Syarat-syarat Evaluasi Yang Baik
a. Valid
Suatu evaluasi yang memenuhi syarat kevalidan bilamana evaluasi itu tepat sesuai tujuan evaluasi. Upaya meningkatkan validitas alat evaluasi dipengaruhi oleh faktor-faktor:
b. Komprehensif
Suatu evaluasi dikatakan komprehensif apabila evaluasi hasil belajar terdiri dari soal-soal tes yang relatif menyeluruh dari semua materi yang diajarkan.
c. Besarnya suatu ukuran
Maksudnya bahwa dalam tahap pengukuran hendaknya evaluasi menggunakan alat ukur yang tidak terlalu jauh
d. Menggunakan bahasa yang komunikatif
Bahasa yang terlalu sulit menyebabkan siswa tidak bisa mengerjakan, bukan karena tidak menguasai materi, tetapi karena tidak tahu apa yang dimaksud dalam pertanyaan.
e. Handal (Reliable)
Alat ukur yang terandalkan atau alat ukur yang reabel adalah alat ukur yang konsisten hasilnya pada situasi yang berbeda. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keterandalan alat evaluasi adalah:
a. Valid
Suatu evaluasi yang memenuhi syarat kevalidan bilamana evaluasi itu tepat sesuai tujuan evaluasi. Upaya meningkatkan validitas alat evaluasi dipengaruhi oleh faktor-faktor:
b. Komprehensif
Suatu evaluasi dikatakan komprehensif apabila evaluasi hasil belajar terdiri dari soal-soal tes yang relatif menyeluruh dari semua materi yang diajarkan.
c. Besarnya suatu ukuran
Maksudnya bahwa dalam tahap pengukuran hendaknya evaluasi menggunakan alat ukur yang tidak terlalu jauh
d. Menggunakan bahasa yang komunikatif
Bahasa yang terlalu sulit menyebabkan siswa tidak bisa mengerjakan, bukan karena tidak menguasai materi, tetapi karena tidak tahu apa yang dimaksud dalam pertanyaan.
e. Handal (Reliable)
Alat ukur yang terandalkan atau alat ukur yang reabel adalah alat ukur yang konsisten hasilnya pada situasi yang berbeda. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keterandalan alat evaluasi adalah:
a.
Jumlah soal :
Alat evaluasi yang jumlah soalnya lebih banyak cenderung lebih reliable
dibanding dengan soal yang jumalahnya lebih sedikit
b.
Homogenitas : Alat
evaluasi yang terdiri dari soal yang lebih homogen cenderung lebih reliabel
disbanding dengan soal yang heterogen
c.
Waktu penyelesaian
soal : Waktu menyelesaikan soal harus cukup, tidak kurang dan tidak berlebihan
d.
Keseragaman
kondisi : Setiap tes perlu disusun standar administrasinya
(pelaksanaanya)
e.
Tingkat kesukaran
: Soal evaluasi yang terlalu sulit atau terlalu mudah menimbulkan rendahnya
tingkat keterandalan soal evaluasi
f. Praktis
Alat evaluasi harus dapat digunakan dalam arti mudah dilaksaan oleh siapa saja, tidak menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaanya. Sedangkan Daryanto (1997: 19-28) membagi syarat-syarat evaluasi menjadi 5 (lima) bagian, diantaranya:
a. Keterpaduan
Evaluasi merupakan komponen integral dalam program pengajaran disamping tujuan serta metode. Tujuan inttruksional, materi dan metode, serta evaluasi merupakan tiga keterpaduan yang tidak boleh dipisahkan.
b. Koherensi
Dengan prinsip koherensi diharapkan evaluasi harus berkualitas dengan materi pengajran yang sudah disajikan dan sesuai dengan ranah kemampuan yang hendak diukur.
c. Paedagogis
Evaluasi perlu diterapkan sebagai upaya perbaikan sikap dan tingkah laku ditinjau dari segi pedagogis. Evaluasi dan hasilnya hendaknya dapat dipakai sebagai alat motivasi untuk siswa dalam kegiatan belajarnya.
d. Akuntabel
Sejauh mana keberhasilan program pengajaran perlu disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan pendidikan sebagai laporan pertanggungjawaban (accountability).
4. Teknik Evaluasi
A. Teknik Non-Tes
1) Angket (Questionaire)
Merupakan sebuah daftar pertanyaan yang harus dijawab oleh orang yang akan dievaluaasi (respondensi), dan berfungsi sebagai alat pengumpul data.
Dilihat dari macamnya, pembagian angket adalah sebagai berikut:
Alat evaluasi harus dapat digunakan dalam arti mudah dilaksaan oleh siapa saja, tidak menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaanya. Sedangkan Daryanto (1997: 19-28) membagi syarat-syarat evaluasi menjadi 5 (lima) bagian, diantaranya:
a. Keterpaduan
Evaluasi merupakan komponen integral dalam program pengajaran disamping tujuan serta metode. Tujuan inttruksional, materi dan metode, serta evaluasi merupakan tiga keterpaduan yang tidak boleh dipisahkan.
b. Koherensi
Dengan prinsip koherensi diharapkan evaluasi harus berkualitas dengan materi pengajran yang sudah disajikan dan sesuai dengan ranah kemampuan yang hendak diukur.
c. Paedagogis
Evaluasi perlu diterapkan sebagai upaya perbaikan sikap dan tingkah laku ditinjau dari segi pedagogis. Evaluasi dan hasilnya hendaknya dapat dipakai sebagai alat motivasi untuk siswa dalam kegiatan belajarnya.
d. Akuntabel
Sejauh mana keberhasilan program pengajaran perlu disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan pendidikan sebagai laporan pertanggungjawaban (accountability).
4. Teknik Evaluasi
A. Teknik Non-Tes
1) Angket (Questionaire)
Merupakan sebuah daftar pertanyaan yang harus dijawab oleh orang yang akan dievaluaasi (respondensi), dan berfungsi sebagai alat pengumpul data.
Dilihat dari macamnya, pembagian angket adalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan kebebasan responden dalam
memberikan jawaban
Angket
terbuka : Dikatakan terbuka apabila
pertanyaan dan resonden bebas menjawabnya karena memang tidak disediakan
jawabanya untuk dipilih
Angket
tertutup : Dikatakan tertutup jika
memuat jawaban atau menyediakan jawaban sehingga responden hanya tinggal
memilihnya.
2. Berdasarkan
atas hubungan antara responden dengan jawaban yang diberikan:
Angket
tak langsung : Angket tak
langsung menghendaki jawaban berkenaan dengan keterangan atau informasi diluar
diri responden.
Angket
langsung : Angket langsung
menghendaki responden menjawab informasi atau keterangan yang berkenaan dengan
data dirinya sendiri. Dalam angket tidak ada indek kesukaran dan daya pembeda.
Adapun kelebihan dari angket adalah sebagai berikut:
(a) Biaya relatif murah.
(b) Penyebar angket tidak perlu ahli dalam bidangnya.
(c) Penyebar angket lebih berfungsi sebagai penyebar semata-mata.
Sedangkan kelemahan dari angket adalah sebagai berikut
(a) Angket hanya disebnarkan untuk responden yang tidak buta huruf.
(b) Angket yang baik sukar disusun.
2) Wawancara (interview)
Merupakan metode yang digunakan untuk mendapatkan jawaban responden dengan jalan Tanya jawab secara sepihak. Wawancara dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain:
(a) Biaya relatif murah.
(b) Penyebar angket tidak perlu ahli dalam bidangnya.
(c) Penyebar angket lebih berfungsi sebagai penyebar semata-mata.
Sedangkan kelemahan dari angket adalah sebagai berikut
(a) Angket hanya disebnarkan untuk responden yang tidak buta huruf.
(b) Angket yang baik sukar disusun.
2) Wawancara (interview)
Merupakan metode yang digunakan untuk mendapatkan jawaban responden dengan jalan Tanya jawab secara sepihak. Wawancara dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain:
Wawancara
Bebas : Wawancara dimana responden mempunyai kebebasan
untuk mengutarakan pendapatnya tanpa dibatasi oleh patokan-patokan yang telah
dibuat oleh subjek evaluasi.
Wawancara
Terpimpin : Wawancara yang dilakukan
oleh subjek evaluasi dengan cara menajukan pertanyaan yang telah disusun
terlebig dahulu.
Wawancara
dalam rangka belajar mengajar
a.
Wawancara diagnostik : Ditujukan untuk mencari data tentang letak, sifat dan jenis kesulitan
belajar yang dialami oleh siswa.
b.
Wawancara Survei : Merupakan teknik pengumpulan data dari seorang siswa atau sekelompok
siswa yang dimaksudkan untuk memperoleh masukan tentang suatu hal, peristiwa,
atau pengalaman yang mungkin diketahuai oleh siswa tersebut.
c. Wawancara
penyembuhan : Dimaksudkan
untuk memberikan upaya bantuan kepada siswa yang diwawancarai tidak lagi
mengalami kesulitan belajar.
Adapun kelebihan wawancara adalah sebagai berikut:
Adapun kelebihan wawancara adalah sebagai berikut:
1. Wawancara merupakan teknik paling tepat untuk
mengungkapkan keadaan subyek pribadi keadaan wawancara.
2. Dapat dilaksanakan terhadap setiap individu dan
tingkatan umur.
3. Wawancara selalu digunakan untuk mengumpulkan data
pelengkap terhadap data yang dikumpulkan dengan teknik lain.
4. Dapat diselenggarakan serempak dengan observasi.
Sedangkan kekurangan wawancara adalah sebagai berikut:
a.
Kalau pewawancara
atau subjek wawancara mempunyai suatu prassangka yang satu kepada yang lain,
hasil wawancara tidak akan memuaskan.
b.
Mengadakan
wawancara terhadap individu satu persatu memerlukan banyak waktu, tenaga dan
juga biaya.
c.
Menuntyuk
keahlian, ketrampilan, dan penguasaan bahasa yang baik dari pewawancara.
3) Observasi
(Pengamatan)
Merupakan suatu teknik evaluasi non-tes yang menginventarisasikan data tentang sikap dan kepribadian siswa dalam kegiatan belajarnya.Pada obsertvasi berupa pertanyaan bukan pertanyaan.
Adapun jenis-jenis observasi antara lain:
Merupakan suatu teknik evaluasi non-tes yang menginventarisasikan data tentang sikap dan kepribadian siswa dalam kegiatan belajarnya.Pada obsertvasi berupa pertanyaan bukan pertanyaan.
Adapun jenis-jenis observasi antara lain:
a.
Observasi
Partisipan : Observasi yang dilakukan oleh pengamat tetapi pengamat memasuki
dan mengikuti kegiatan kelompok yang sedang diamati.
b.
Observasi
Sistematik : Observasi dimana faktor-faktor yang diamati sudah didaftar secara
sistematis dan sudah diatur menurut kategorinya.
c.
Observasi
Eksperimental : Terjadi jika pengamat tidak berpartisipasi dalam kelompok.
d.
Inventori
(Inventory) : Mengandung sejumlah pertanyaan yang tersusun dalam rangka
mengetahui tenatng sikap, pendapat dan perasaan siswa terhadap kegiatan proses
penyalenggaraan proses belajar mengajar.
e.
Daftar Cek dan
Skala Bertingkat : Daftar cek adalah sederetan pertanyaan yang dijawab olae
responden dengan membubuhkan tanda cek (Ö) pada tempat yang telah disediakan.Skala bertingkat
adalah sejenis daftar cek dengan kemungkinan jawaban terurut menurut tingkatan
atau hierarki.
f.
Portofolio : Kumpulan
berkas semua hasil karya siswa yang berupa hasil ulangan dan sebagainya.Dalam
menentukan nilai tidak hanya dari hasil akhir tetapi juga hal-hal yang
berkaitan dengan siswa.
Kelebihan dan kekurangan observasi
1) Kelebihan observasi
1) Kelebihan observasi
a.
Data yang
dikumpulkan melalui observasi cenderung mempunyai keandalan yang tinggi.
b.
Dapat melihat
langsung apa yang sedang dekerjakan, pekerjaan-pekerjaan yang rumit kaang sulit
untuk diterangkan.
c.
Dapat
menggambarkan lingkungan-lingkungan fisik dari kegiatan-kegiatan, misalnya tata
letak fisik peralatan, penerangan, dan gangguan suara.
d.
Dapat mengukur
tngkat suatu pekerjaan, dalam hal yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu
unit pekerjaan tertentu.
2) Kelemahan observasi
a.
Umumnya orang yang
diamati merasa terganggu dan tidak nyaman, sehingga akan melakukan pekerjaan
dengan tidak semestinya
b.
Dapat menggangu
proses yang sedanng diamati.
c.
Orang yang diamati
cenderung melakukan pekerjaannya dengan lebih baik dari biasanya dan sering
menutup-nutupi kejelek-jelekannya.
B. Teknik Tes
Untuk memasuki salah satu perguruan tinggi Islam di Purwokerto, calon mahasiswa diwajibkan untuk mengikuti beberapa tahap ujian masuk. Ujian pertama berupa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan dasar dan pengetahuan umum yang ditulis dalam lembar jawaban yang tersedia. Tahapan ujian selanjutnya adalah ujian baca Al Qur’an. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan calon mahasiswa dalam mempelajari Al Qur’an. Setelah lolos ujian tulis dan baca Al Qur’an, calon mahasiswa berhak mengikuti ke tahap selanjutnya yaitu ujian wawancara, dimana calon mahasiswa diajukan beberapa pertanyaan dan langsung dijawab secara lisan.
Beberapa pengertian tes menurut :
Untuk memasuki salah satu perguruan tinggi Islam di Purwokerto, calon mahasiswa diwajibkan untuk mengikuti beberapa tahap ujian masuk. Ujian pertama berupa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan dasar dan pengetahuan umum yang ditulis dalam lembar jawaban yang tersedia. Tahapan ujian selanjutnya adalah ujian baca Al Qur’an. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan calon mahasiswa dalam mempelajari Al Qur’an. Setelah lolos ujian tulis dan baca Al Qur’an, calon mahasiswa berhak mengikuti ke tahap selanjutnya yaitu ujian wawancara, dimana calon mahasiswa diajukan beberapa pertanyaan dan langsung dijawab secara lisan.
Beberapa pengertian tes menurut :
a.
Amien Daien
Indrakusuma, dalam bukunya yang berjudul Evaluasi Pendidikan,
Tes adalah suatu alat alat atau prosedur yang sistematis dan obyektif untuk memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang diinginkan tentang seseorang dengan cara yang boleh dikatakan tepat(cepat).
Tes adalah suatu alat alat atau prosedur yang sistematis dan obyektif untuk memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang diinginkan tentang seseorang dengan cara yang boleh dikatakan tepat(cepat).
b.
Mochtar
Buchori,dalam bukunya yang berjudul Teknik-Teknik Evaluasi,
Tes adalah suatu percobaan yang diadakan untuk mengetahui ada tidaknya hasil-hasil pelajaran tertentu pada seseorang murid atau kelompok murid
Tes adalah suatu percobaan yang diadakan untuk mengetahui ada tidaknya hasil-hasil pelajaran tertentu pada seseorang murid atau kelompok murid
c.
Webster’s
collegiate
Tes adalah serentetanpertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
Tes adalah serentetanpertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
1. Fungsi Tes :
Secara umum, ada dua macam fungsi yang dimiliki oleh tes, yaitu:
1.
Sebagai alat
pengukur terhadap peserta didik. Dalam hal ini tes berfungsi megukur tingkat
perkembangan yang telah dicapai peserta didik setelah mereka menempuh proses
belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu
2.
Sebagai alat
pengukur keberhasilan program pengajaran, sebab melalui tes tersebut akan dapat
diketahui sudah seberapa jauh program pengajaran yang telah ditentukan, telah
dapat dicapai. (Sudiyono : 2001).
2.
Macam-macam test
Menurut pelaksanaannya dalam praktek test terbagi
atas:
1.
Tes tulisan
(written tes), yaitu test yang mengajukan butir-butir pertanyaan dengan
mengharapkan jawaban tertulis. Biasanya test ini digunakan untuk mengukur aspek
kognitif
2.
Test lisan (oral
test), yaitu tes yang mengajukan pertanyan-pertanyaan dengan menghendaki
jawaban secara lisan. Test ini juga untuk aspek kognitif peserta didik.
3.
Test perbuatan
(performance test), yaitu tes yang mengajukan pertanyan-pertanyaan dengan
menghendaki jawaban dalam bentuk perbuatan.
Menurut fungsinya test terbagi atas:
1.
Tes formatif
(formative test), yaitu test yang dilaksanakan setelah selesainya satu pokok
bahasan. Test ini berfungsi untuk menetukan tuntas tidaknya satu pokok bahasan.
Tindak lanjut yang dapat dilakukan setelah diketahui hasil test formatif
peserta didik adalah:
a.
Jika materi yang
ditestkan itu telah dikuasai, maka pembelajaran dilanjutkan dengan pokok
bahasan yang baru.
b.
Jika ada
bagian-bagian yang belum dikuasai oleh peserta didik, maka sebelum melanjutkan
pokok bahasan yang baru, terlebih dahulu diulangi atau dijelaskan kembali
bagian-bagian yang belum di kuasai. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki tingkat
penguasaan peserta didik.
2.
Tes sumatif
(summative test), yaitu test yang diberikan setelah sekumpulan satuan program
pembelajaran selesai diberikan. Disekolah test ini dikenal sebagai ulangan
umum.
3.
Test diagnostik
(Diagnostic test), yaitu test yang dilakukan untuk menentukan secara tepat,
jenis kesulitan yang dihadapi oleh peserta didik dalam suatu mata pelajaran
tertentu.
3. Menurut waktu diberikannya test terbagi atas:
1) Pra test (pre test)
yaitu test yang diberikan
sebelum proses pembelajaran. Test ini bertujuan untuk mengetahui sejauh manakah
materi yang akan diajarkan telah dapat dikuasai oleh peserta didik. Jenis-jenis
pra test antara lain:
a.
Test persyaratan (Test of entering behavior), yaitu
tes yang dilaksanakan untuk mengetahui kemampuan dasar yang menjadi syarat guna
memasuki suatu kegiatan tertentu.
b.
Input test (test of input competence), yaitu test yang
digunakan menentukan kegiatan belajar yang relevan, berhubungan dengan
kemampuan dasar yang telah dimiliki oleh peserta didik.
2) Test akhir (Post test)
yaitu test yang
diberikan setelah dilaksanakan proses pembelajaran. Tes tersebut bertujuan
untuk mengetahui tingkat kemajuan intelektual (tingkat penguasaan materi)
peserta didik. Biasanya test ini berisi pertanyaan yang sama dengan pra test.
4. Menurut Kebutuhannya, macam Test antara lain
a. Psycho test, yaitu test tentang
sifat-sifat atau kecenderungan atau hidup kejiwaan seseorang
b. IQ test, yaitu test
kecerdasan. Test ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecerdasan seseorang
(peserta didik).
c. Test kemampuan (aptitude
test), yaitu test bakat. Test ini bertujuan untuk mengungkap kemampuan atau
bakat khusus yang dimiliki oleh seseorang.
5. Menurut jenisnya tes terbagi menjadi:
Test standar yaitu test yang sudah dibakukan setelah
mengalami beberapa kali uji coba (try out) dan memenuhi syarat test yang baik. Dan Test buatan guru yaitu test yang dibuat oleh guru.
6. Menurut jenis waktu yang disediakan test terdiri atas:
a. Power test yakni test dimana waktu yang disediakan untuk
menyelesaikan test tidak dibatasi.
b. Speed tes yaitu test dimana waktu yang
disediakan untuk menyelesaikan test dibatasi.
7. Penggolongan Tes Berdasarkan Aspek Psikis :
1) Tes
intelegensi
Tes intelegensi yakni tes yang
dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap atau mengetahui tingkat kecerdasan
seseorang.
2) Tes
kemampuan
Tes kemampuan yakni tes yang
dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap kemampuan dasar atau bakat khusus
yang dimiliki oleh testee.
3) Tes sikap
Tes sikap yakni salah satu
jenis tes yang dipergunakan untuk mengungkap predisposisi atau kecenderungan
seseorang untuk melakukan suatu respon tertentu terhadap dunia sekitarnya, baik
berupa individu-individu maupun objek-objek tertentu.
4) Test
kepribadian
Tes kepribadian yakni tes yang
dilaksanakan dengan tujuan mengungkap ciri-ciri khas dari seseorang yang banyak
sedikitnya bersifat lahiriah, seperti gaya bicara, cara berpakaian, nada suara,
hobi atau kesenangan dan lain-lain. (Sudiyono : 2001).
5) Tes Hasil
Belajar (THB)
Tes Hasil Belajar (achievement
test) adalah tes yang dipergunakan untuk menilai hasil-hasil belajar yang
telah diberikan dalam jangka waktu tertentu.Tes Hasil Belajar (THB) bisanya
digunakan adalah tes buatan guru sendiri.
Contoh : Ulangan Blok (mid semester)
Untuk melaksanakan evaluasi
hasil belajar guru dapat menggunakan dua macam tes yaitu :
(a) Tes yang distandarkan
atau (standardized tes).
Standardized
test adalah tes yang mengalami proses standarisasi, yakni proses validasi
dan kehandalan (realibility) sehingga tes tersebut benar-benar valid dan
handal untuk sesuatu tujuan bagi suatu kelompok tertentu.
(b) Tes buatan guru
sendiri (teacher made test)
Teacher
made test adalah tes yang dibuat guru sendiri yang
isinya dan tujuannya khusus untuk kelas atau
sekolah ditempati guru itu mengajar.
8. Ciri-ciri
tes yang baik
Sebuah tes dikatakan baik
sebagai alat pengukur jika :
a.
Valid : Sebuah tes disebut valid jika dapat
mengukur secara tepat apa yang seharusnya diukur.
b.
Realiable (dapat dipercaya) : Tes dikatakan dapat dipercaya
jika memberikan hasil yang tetap apabila diteskan berkali-kali kepada para
siswa yang sama pada waktu yang berlainan. Maka siswa akan tetap berada dalam
urutan (Ranking) yang sama dalam kelompoknya.
c.
Objektif : Objektif berarti tidak adanya unsur pribadi yang mempengaruhi.Hal ini
terjadi pada sistem skoring.Objektifitas menekankan ketetapan pada sistem
skoring.Seangkan reliabilitas menekankan ketetapan dalam hasil tes.
d.
Praktis : Sebuah tes dikatakan praktis
apabila mudah dilaksanakan.Mudah pemeriksaanya dan dilengkapi dengan petunjuk
yang baik.
e.
Ekonomis : Ekonomis adalah bahwa pelaksanaan tes tersebut tidak
membutuhkan ongkos atau biaya mahal, tenaga yang banyak, dan waktu yang lama.
9. Merencanakan
Tes
Hal-hal yang harus
diperhatikan dalam merencanakan tes :
Relevansi : Tes harus sesuai dengan materi yang telah diberikan
Pengambilan sampel yang tepat : Suatu contoh soal harus mengutamakan hasil
pembelajaran yang diinginkan.
Kondisi standar : Kondisi standar adalah suatu kondisi dimana waktu yang
diberikan tingkat kesukaran dan konten yang sama ada pada setiap soal yang
dibuat.
Tingkat kesukaran yang sesuai : Kesukaran contoh soal
didefinisikan sebagai presentase manusia yang menjawab contoh soal dengan
benar.Yaitu dijawab benar oleh siswa yang menguasai materi.
Konsistensi : Konsistensi atau reliabilitymerupakan
sesuatu hal penting dalam pengukuran skor pada siswa dalam suatu tes dari waktu
ke waktu.
Skor yang penuh arti : Skor yang memberikan informasi yang berguna dan akurat
yang menggambarkan pencapaian siswa dalam belajar dan digunakan untuk mengambil
keputusan
10. Langkah-Langkah
Menyusun Tes :
Dalam menyusun tes dipergunakan
langkah-langkah sebagai berikut :
a.
Menentukan tujuan mengadakan tes.
b.
Mengadakan pembatasan terhadap materi yang akan
diujikan.
c.
Merumuskan tujuan instruksional khusus dari tiap
bagian bahan.
d.
Menderetkan semua indikator dalam tabel yang memuat aspek
tingkah laku yang terkandung dalam materi itu.
e.
Menyusun tabel spesifikasi tau kisi-kisi yang memuat
pokok materi, aspek berfikir yang diukur beserta perbandingan antara dua hal
tersebut.
f.
Menulis butir-butir soal didasarkan atas indikator dan
aspek tingkah laku yang dicakup.
11. Tipe-tipe
Soal
a). Tipe Soal Subjektif
Bentuk tipe soal subjektif
adalah bentuk uraian (essay).soal-soal bentuk uraian amat baik untuk menarik
hubungan antara kognitif siswa dengan pengetahuan siswa. Umumnya tes bentuk
uraian menggunakan kata tanya seperti selesaikan, tentukan, uraikan, jelaskan,
bukti-kan, carilah, dan hitunglah.
1) Kelebihan
Soal Tipe Subjektif
a.
Pembuatan soal relatif lebih mudah dan dapat dibuat
dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama.
b.
Dalam menjawab soal bentuk uraian siswa dituntut
menjawab secara rinci.
c.
Proses pengerjaan tes akan mengembangkan keterampilan.
d.
Dapat mengontrol proses berpikir siswa.
e.
Lebih sesuai untuk
mengukur kemampuan kognitif yang relatif lebih tinggi.
f.
Tes uraian dapat dengnan
baik mengukur hasil belajar yang komplek.
g.
Memudahkan guru
untuk menyusun butir soal.
2) Kelemahan
Soal Tipe Subjektif
a.
Ruang lingkup kurang menyeluruh
b.
Pemeriksaan dan pemberian nilai sering kali
dipengaruhi oleh faktor subjektifitas dari pemberi nilai atau
pemeriksa.
c.
Pemeriksaan jawaban soal bentuk uraian ini tidak dapat
dilakukan oleh sembarang orang.
d.
Memeriksa jawaban cukup rumit sehingga memerlukan
waktu yang cukup banyak.
e.
Jawaban peserta
tes biasanya disertai bualan-bualan.
f.
Kemampuan
menyatakan pikiran secara tertulis menjadi hal yang paling membedakan prestasi
belajar siswa.
g.
Tes esai
menghendaki jawaban yang panjang, sehingga tidak memungkinkan butir tes dalam
jumlah banyak. Akibatnya, soal tidak representatif dalam mengukur kemampuan
yang diharapkan.
3) Cara
Penyajian Soal Subjektif ada 2 yaitu :
1. Uraian Berstruktur
Soal
uraian bentuk ini disajikan secara terinci menjadi sub-sub masalah yang
sifatnya saling menunjang.
Contoh :
Diketahui fungsi f dengan
persamaan :f(x) =2x² + 11x21
Tentukan :
a). Syarat agar fungsi
memotong sumbu x
b). Titik potong dengan sumbu
x
c). Syarat agar fungsi
memotong sumbu y
d). Titik potong dengan sumbu
y
e). Persamaan subu simetrinya
f). Titik balik fungsi F
g). Gambar sketsa grafik
2. Uraian Bebas
Soal
uraian bentuk ini disajikan secara global, tidak terinci.Dalam jawabanya siswa
diperbolehkan mengerjakan bagian jawaban soal itu secara bebas, asal masalah
yang ditanyakan dapat dijawab secara benar.Soal yang hanya terdiri dari satu
masalah dapat tergolong pada soal bentuk uraian bebas.
Contoh :
1. Gambarkan sketsa grafik
fungsi f dengan persamaan fungsi f(x)=2x²+11x-21
2. Selesaikan persamaan
kuadrat 2x²+11x-21=0.
b). Tipe soal objektif
Istilah
objektif adalah tidak adanya faktor lain yang mempengaruhi proses pemeriksaan
pekerjaan tes dan penentuan skor atau nilai akhir yang akan diberikan oleh
penguji soal-soal bentuk objektif ini banyak digunakan dalam menilai hasil
belajar karena luasnya bahan pelajaran yang didapat, dicakup dalam tes dan
mudahnya menilai jawaban yang diberikan.
Tipe soal onjektif memiliki kelebihan dan kekurangan,
kelebihan yang dimiliki antara lain:
1) Proses
dan hasil pemeriksaan bersifat objektif sesuai kenyataan sebenarnya.
2) Pemeriksaan
jawaban soal tipe objektif dapat dilakukan oleh orang lain.
3) Jawaban
yang benar sudah tentu dan pasti.
4) Ruang
lingkup materi yang diujikan menyeluruh.
5) Pemeriksaan
dapat dilakukan dengan cepat dan mudah.
6) Waktu yang dibutuhkan relatif
lebih singkat.
7) Faktor terka-menerka relatif lebih
kecil.
8) Soal-soal lebih mungkin dapat
dipakai ulang.
Sedangkan kekurangan adalah:
1) Proses
berpikir siswa tidak dapat dievaluasi.
2) Pembuatan
solal yang sulit dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
3) Biaya perbanyakan
soal lebih mahal.
4) Memberikan
peluang yang besar bagi siswa untuk bekerja sama dengan temanya.
5) Lebih sesuai untuk mengukur kemampuan kognitif yang
relatif lebih tinggi.
6) Bahan ajar yang diungkap dengan tes objektif, umumnya
lebih pada hal-hal yang faktual.
7) Sifat
kreatif siswa akan cenderunga menumpul.
Menurut bentuknya soal tipe
objektif terdiri 4 macam yaitu :
1) Bentuk
soal benar salah (true-false)
Bentuk
soal benar salah berupa soal-soal pertanyaan dimana siswa harus menentukan
nilai kebenaran dengan memilih huruf B jika pernyataan benar atau huruf S jika
pernyataan salah.
Tes benar salah adalah suatu bentuk tes yang
soal-soalnya berupa pernyataan(Sudjana,2004:264). Sebagian dari pernyataan itu
merupakan pernyataan yang benar dan sebagian lain merupakan pernyataan yang
salah. Tes ini merupakan tes yang butir pertanyaannya dijawab dengan memilih
salah satu pilihan jawaban yaitu B atau S .
Contoh : Silanglah huruf B
jika Benar atau huruf S jika salah.
1. B-S 2+4 =6
2. B-S bilangan prima selalu
ganjil.
Kebaikan
bentuk soal benar salah :
a) Pemeriksaan
dapat dilakukan dengan cepat dan objektif.
b) Soal dapat disusun dengan
mudah.
c) Mudah dikonstruksi.
d) Perangkat soal dapat mewakili
semua pokok bahasan.
e) Dapat mencakup bahan yang
luas dan tidak memakan tempat yang banyak.
f) Petunjuk pengerjaannya mudah
dimengerti.
g) Dapat digunakan berkali-kali.
h) Waktu tes relatif singkat.
Kelemahan bentuk soal benar
salah :
a) Kemungkinaan
menebak dengan benar jawaban setiap soal adalah 50%.
b) Kurang
dapat mengukur aspek pengetahuan yang lebih tinggi.
c) Banyak
masalah yang tidak dapat dinyatakan hanya dengan menentukan benar salah.
Kaidah penulisan soal benar
salah :
a) Hindarkan
pernyataan kata kadang-kadang, selalu, umumnya,dan seringkali,.
b) Hindarkan
pengambilan langsung dari buku pelajaran.
c) Hindari
pernyataan pendapat yang masih dapat diperdebatkan kebenaranya.
d) Hindarkan
penggunaan pernyataan negatife ganda.
e) Usahakan
agar kalimat untuk setiap soal tidak terlalu panjang.
f) Susunlah
pernyataan-pernyataan benar salah secara acak.
2) Bentuk
soal jawaban singkat
Bentuk
soal jawaban singkat mengendaki jawaban dalam bentuk kata, bilangan kalimat
atau simbol dan jawabanya hanya dapat dinilai benar atau salah
Contoh : Volume kubus dengan
panjang rusuk 4 cm adalah ….
Kebaikan bentuk soal jawaban
singkat :
a) Menyusun
soalnya relatif mudah.
b) Siswa
memberi jawaban dengan cara menebak.
c) Menuntut
siswa untuk dapat menjawab dengan singkat dan tepat.
d) Hasil penilaianya cukup
obyektif.
e) Penggunaan waktu singkat.
f) Mempermudah guru untuk
melihat secara langsung kondisi dan kemampuan siswa.
g) Soal tidak perlu dibuat banyak.
h) Mudah dalam penilaian atau
penskoran.
Kelemahan bentuk soal jawaban
singkat :
a) Kurang
dapat mengukur aspek pengetahuan yang lebih tinggi.
b) Memerlukan
waktu yang lama untuk menilainya sekalipun tidak selama bentuk uraian.
c) Kesulitan pemeriksaan apabila
jawaban siswa membingungkan pemeriksa.
d) Penskoran agak susah.
e) Setiap jawaban siswa tidak
sama.
f) Sulit mengukur siswa yang
cerdas.
g) Siswa yang tidak dapat menjawab
mendapat nilai nol.
Kaidah penulisan soal jawaban
singkat :
a) Jangan
mengambil atau menggunakan pernyataan yang langsung diambil dari buku.
b) Pernyataan
hendaknya mengandung hanya satu kemungkinan jawaban benar.
3) Bentuk
soal menjodohkan
Bentuk
soal menjodohkan terdiri atas dua kelompok pernyataan yang paralel, kedua
kelompok pernyataan ini berada pada satu kesatuan, kelompok sebelah kiri
merupakan bagian yang berisi soal-soal yang harus dicari jawabanya sedangkan
kelompok sebelah kanan merupakan bagian yang berisi jawaban.
Kebaikan bentuk soal
menjodohkan :
a) Penilaianya dapat dilakukan
dengan cepat dan obyektif.
b) Dapat mengukur ruang lingkup
pokok bahasan atau sub pokok bahasan yang lebih luas.
c) Mempermudah siswa menjawab soal
karena jawaban sudah tersedia.
d) Dapat memotifasi daya ingat
siswa.
e) Tiak diperlukan pengecoh
yang banyak.
f) Dapat dikoreksi oleh siapa saja.
Kelemahan bentuk soal
menjodohkan :
a) Hanya
dapat mengukur hal-hal yang didasarkan atas fakta dan hafalan.
b) Sukar untuk menentukan materi
yang mengukur hal-hal yang berhubungan.
c) Tidak dapat menggunakan
jawaban yang sedikit terurai.
d) Sulit menyusun homogenitas antara
soal dengan pilihan jawaban.
e) Sulit mencari
pasangan-pasangan yang relevan dengan soal.
f) Bila yang belum terjawab
tinggal sedikit dapat ditebak.
g) Tiak dapat melatih anak untuk
berfikir kritis.
Kaidah penulisan soal
menjodohkan :
a) Hendaknya
materi berasal dari hal yang sama sehingga persoalan bersifat homogen.
b) Usahakan
agar pertanyaan dan jawaban mudah dimengerti.
c) Jumlah
jawaban hendaknya lebih banyak dari jumlah soal.
d) Gunakan
simbol yang berlainan untuk pertanyaan dan jawaban.
e) Susunlah
soal menjodohkan dalam satu halaman yang sama.
4) Bentuk
soal pilihan ganda
Soal pilihan
ganda adalah bentuk tes yang mempunyai satu jawaban yang benar atau paling
tepat. Dilihat dari struktur, bentuk soal pilihan ganda terdiri atas :
- Stem : Pernyataan yang berisi
permasalahan yang akan ditanyakan.
- Option : Sejumlah
pilihan atau alternatife jawaban.
-
Kunci : Jawaban yang benar atau
paling tepat.
- Distractor : Jawaban-jawaban yang lain
selain kunci jawaban.
Kebaikan bentuk soal pilihan
ganda :
a) Materi
yang diujikan mencakup sebagian besar bahan pengajaran yang telah
diberikan.
b) Jawaban siswa dapat dikoreksi
dengan mudah/cepat menggunakan kunci
jawaban.
c) Jawaban setiap pertanyaan
benar atau salah sehingga penilaianya bersifat objektif.
d) Waktu yang diberikan lebih singkat.
Kelemahan bentuk soal pilihan
ganda :
a) Kemungkinan untuk melakukan
tebakan jawban masih cukup besar.
b) Proses berpikir siswa tidak
dapat dilihat dengan nyata.
c) Diperluka waktu yang lama
untyuk menyusunnya.
d) Kesulitan dalam mencari pengecoh
yang benar-benar homogen.
e) Siswa dapat bekerjasama
dalam menjawab.
f) Jumlah soal harus banyak
agar dapat mewakili semua materi yang telah dipelajari.
Kaidah penulisan soal pilihan
ganda :
a) Pokok
soal (stem) yang merupakan permasalahan harus dirumuskan dengan jelas
b) Perumusan
pokok soal dan alternatif jawaban hendaknya merupakan pernyataan yang
diperlukan saja
c) Untuk
satiap soal hanya ada satu jawaban yang benar atau yang paling benar
d) Alternatif
jawaban harus logis dan pengecoh harus berfungsi
e) Usahakan
agar tidak ada “petunjuk” untuk jawaban yang benar
12. Fungsi Tes
Secara umum, ada dua macam
fungsi yang dimiliki oleh tes, yaitu:
a.
Sebagai alat pengukur terhadap peserta didik. Dalam
hal ini tes berfungsi megukur tingkat perkembangan yang telah dicapai peserta
didik setelah mereka menempuh proses belajar mengajar dalam jangka waktu
tertentu.
b.
Sebagai alat pengukur keberhasilan program pengajaran,
sebab melalui tes tersebut akan dapat diketahui sudah seberapa jauh program
pengajaran yang telah ditentukan, telah dapat dicapai. (Sudiyono :
2001).
13. Merencanakan
Tes
Proses pembelajaran harus
mencapai tujuan dari pembelajaran itu sendiri. Oleh karena itu diperlukan suatu
evaluasi yang dapat mengukur keberhasilan proses belajar tersebut. Salah satunya dengan mengadakan
tes atau ulangan harian pada setiap akhir bab. Untuk merancang sebuah tes perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
a.
Relevansi
:Tes harus
sesuai dengan materi yang telah diberikan.
b.
Pengambilan sampel yang tepat : Suatu contoh soal harus mengutamakan hasil
pembelajaran yang diinginkan.
c.
Kondisi standar
: Kondisi
standar adalah suatu kondisi di mana waktu yang diberikan, tingkat kesukaran,
dan konten yang sama ada pada setiap soal yang dibuat.
d.
Kesukaran yang sesuai : Kesukaran contoh soal didefinisikan sebagai presentase manusia yang
menjawab contoh soal dengan benar, yaitu dijawab benar oleh siswa yang
menguasai materi.
e.
Konsistensi
: Konsistensi
atau reliability merupakan sesuatu hal penting dalam pengukuran
skor pada siswa dalam suatu tes dari waktu ke waktu.
f.
Skor yang penuh arti : Skor yang memberikan informasi yang berguna dan akurat yang menggambarkan
pencapaian siswa dalam belajar dan digunakan untuk mengambil keputusan.
11. Langkah-langkah
Menyusun Tes
Dalam menyusun tes
dipergunakan langkah-langkah sebagai berikut :
a.
Menentukan tujuan mengadakan tes.
b.
Mengadakan pembatasan terhadap materi yang akan
diujikan.
c.
Merumuskan tujuan instruksional khusus dari tiap
bagian bahan.
d.
Menderetkan semua indikator dalam tabel yang memuat
aspek tingkah laku yang terkandung dalam materi itu.
e.
Menyusun tabel spesifikasi atau kisi-kisi yang memuat
pokok materi, aspek berfikir yang diukur beserta perbandingan antara dua hal
tersebut.
f.
Menulis butir-butir soal, didasarkan atas
indikator-indikator yang sudah dituliskan pada tabel indikator dan
aspek tingkah laku yang dicakup.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
a.
Pengukuran adalah suatu proses kegiatan
yang dilakukan untuk membandingkan sesuatu atau obyek berdasarkan ukuran
tertentu. Sifat pengukuran adalah kuantitatif dan sebagai suatu tindakan atau
proses untuk menentukan luas atau kuantitas dari sesuatu.
b.
Penilaian adalah suatu proses kegiatan
menentukan nilai atau obyek dengan kriteria dan ukuran tertentu untuk mengambil
suatu keputusan dan mengukur ketercapaian kompetensi.
c.
evaluasi adalah suatu proses yang
sistematik dan sinambung untuk mengetahui efesiensi dan efektivitas suatu
kegiatan dimana didalamnya tedapat kegiatan menilai ataupun mengukur untuk
mengambil suatu keputusan.
B. SARAN
Dalam proses belajar
tentunya kita sebagai sivitas akademi perlu membaca berbagai materi yang
mungkin perlu untuk penambahan pemahaman dan pengetahuan akan pendidikan. Oleh
karena itu sebagai mahasiswa (pemakalah), dengan tersusunnya makalah ini di
harapkan dapat menjadi suatu sarana atau referensi untuk menambah pengetahuan
dan pemahaman.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2008. Mengukur Pencapaian.
Tersedia dihttp://members.tripodcom/putrohari/mengukur_pencapaian.html.
Anonim. 2010. Kelebihan Dan Kekurangan Soal
Dalam Pembelajaran. Tersedia dihttp://www.masbied.com/2010/07/06/kelebihan-dan-kekurangan-bentuk-soal-dalam-pembelajaran/. Diakses tanggal 2 Maret 2011.
Anonim. 2010. Tes Sebagai Alat Penilaian Hasil
Belajar. Tersedia dihttp://imadedwisg.blogspot.com/2010/10/tes-sebagai-alat-penilaian-hasil-dan.html.
Dalton Willian. 2009. Tea Pengukuran
danEvaluasi. Tersedia di http://williandalton.blogspot.com/2009/03
pengertian-tes-pengukuran-evaluasi-dan.html.
Sudrajat, Akhmad. 2008. Penilaian Hasil
Belajar. Tersedia di http:// akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/31/penilaian-hasil-belajar/.
Suherman. 2001, Evaluasi
Proses dan Hasil Belajar. Jakarta: UT.
Supeksa.2010.Wawancara. Tersedia dihttp://supeksa.wordpress.com/2010/11/07/wawancara- berwawancara/.
Pengukuran
penilaian dan evaluasi tersedia di
http://sharewithlinggar.blogspot.com/2013/04/pengukuran-penilaian-dan-evaluasi.html

0 Response to "Evalusi belajar mengajar "Konsep Pengukuran, Penilaian dan Evaluasi""
Post a Comment